RSS

Senin, 29 November 2010

KAISAR NIHAOMA

Oleh Lambertus Hurek
Radar Surabaya, 24 November 2010

Bahasa Mandarin sering disebut sebagai salah satu bahasa tersulit di dunia. Namun, bukan berarti bahasa nasional Zhongguo (baca: Cungkuo) itu tidak bisa dipelajari oleh orang Indonesia yang bukan keturunan Tionghoa.
KAISAR VICTORIO BERPOSE DI TIAN AN MEN - BEI JING
 “Asalkan kita belajar serius, punya niat, mau memanfaatkan teknologi, dan berlatih berbicara pasti bisa,” tegas Achmad Affandi, penyiar senior Radio Suzana 91,3 FM, kepada saya di studionya, Jalan Wali Kota Mustajab 62 Surabaya. Selasa (23/11/2010).

Kaisar Victorio, nama populer Achmad Affandi, selepas menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 2004-2009, kembali mengisi program-program humor di Radio Susana. Salah satunya, Ni Hao Ma, program interaktif berbahasa Tionghoa dan lagu-lagu Mandarin.

Sebagai host, Kaisar Victorio selalu berbahasa Mandarin dalam program rutin selama dua jam pada pukul 13.00-15.00. “Penggemar acara ini sangat banyak. Dan saya pastikan hampir semuanya orang Tionghoa,” ujar penyiar yang menciptakan Trio Burulu (Bunali, Rukem, Lumut) pada 1975 itu.

Lahir di kawasan Ampel, Surabaya Utara, Achmad Affandi sama sekali tak punya darah Tionghoa. Dia juga mengaku tak pernah belajar atau ikut kursus bahasa Mandarin di mana pun. Les privat pun tak dilakoninya. “Saya belajar sendiri, otodidak. Nggak pakai guru sama sekali,” akunya.

Sang kaisar Suzana ini mengaku sangat termotivasi belajar bahasa Mandarin karena ada kebutuhan untuk memperkaya program siarannya. Ini penting karena sejak dulu radio di gelombang 91,3 FM itu senantiasa menampilkan program yang multietnis.

Nah, ketika larangan terhadap bahasa dan budaya Tionghoa dicabut oleh Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum), Victorio kian intensif belajar bahasa negara panda ini.

“Saya manfaatkan program komputer untuk belajar sendiri. Saya belajar mendengarkan, pengucapan, intonasi, nada-nadanya, sampai karakter hutufnya,” terang ayah empat anak ini.

Victorio pun tak malu-malu berkomunikasi dengan warga Tionghoa Surabaya dalam bahasa Mandarin. Perlahan tapi pasti, kemampuan berbahasa Mandarinnya semakin baik. “Semua yang dikatakan pendengar saya mengerti. Saya juga memberi respons atas komentar-komentar mereka,” katanya.

Ketika berkunjung ke Beijing, Tiongkok, sebagai anggota DPR RI, Victorio bisa menjajal kemampuan berbahasa Mandarinnya dengan warga Tiongkok. Dia pun tak perlu bantuan penerjemah seperti halnya anggota-anggota dewan yang lain.

0 komentar:

Poskan Komentar