RSS

Kamis, 28 Oktober 2010

RING OF FIRE



LINGKARAN API


HISTOGRAPHY
Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami.Pasca meletusnya menimbulkan tsunami besar di tahun 1883, setidaknya telahGunung Krakatau yang  terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia selama hampir satu abad
(1900-1996).

Bencana gempa dan tsunami besar yang terakhir terjadi pada akhir 2004 di
Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Lebih dari 150.000 orang meninggal dunia.
Tapi gempa bumi terjadi hampir di setiap tahun di Indonesia. Setelah gempa Aceh di
akhir 2004, pada 2005 Pulau Nias dan sekitarnya juga dilanda gempa. Sekitar
1000 orang menjadi korban. Akhir Mei 2006 , giliran Yogyakarta
dan sebagian Jawa Tengah diporakporandakan gempa bumi. Korban meningggal
mencapai 5.000 orang lebih.


Sementara bulan Oktober 2010 terjadi gempa bumi  7,2 skala Richter dikepulauan
Mentawai Sumatera Barat yang menewaskan hampir 400 jiwa, serta letusan gunung Merapi
di dekat Jogyakarta yang menewaskan hampir 40 jiwa akibat awan panas yang
dikenal dengan sebutan " wedhus gembel ". Salah satu korban yang tewas adalah
"Juru Kunci Merapi" yaitu Mbah Marijan.

Berbagai daerah di Indonesia
merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi, tsunami, banjir,
dan letusan gunung berapi. Wilayah Indonesia dikepung oleh lempeng Eurasia,
lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Sewaktu-waktu lempeng ini akan
bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan
antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh
dan Sumatera Utara.

Catatan dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG)
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan bahwa ada 28 wilayah di
Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Di antaranya NAD,
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan DIY bagian
Selatan, Jatim bagian Selatan, Bali, NTB dan NTT. Kemudian Sulut, Sulteng,
Sulsel, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua serta
Balikpapan Kaltim.

Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan
jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) yang terkenal,
yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik
membentang diantara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng
Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang
bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Ia membentang dari mulai pantai
barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke
Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan
di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang
lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Zone kegempaan
dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap gempa
hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa
manusia amat banyak.

Untuk mengetahui kapan gempa bumi akan terjadi merupakan pekerjaan yang
sulit. Hal ini dikarenakan gempa dapat terjadi secara tiba-tiba di manapun
asalkan masih berada dalam zona kegempaan bumi. Maka dari itu yang masih
mungkin dilakukan adalah melakukan sistem peringatan dini (early warning sytem)
yang berfungsi sebagai “alarm”
darurat jika sewaktu-waktu datang gempa secara tak terduga. Implementasi sistem
ini bisa diterapkan dengan memasang rangkain seismograph yang tersambung dengan
satelit. National Ocean and Atmospheric Administration (NOAA) USA misalnya,
telah menggunakan sensor bernama DART (Deep Oceaan Assesment and Reporting)
yang mampu mengukur perubahan gelombang laut akibat gempa bumi tektonik.

Alat-alat pendeteksi gempa langsung harus diletakkan pada daerah-daerah
rawan gempa seperti Aceh, Nabire, Alor, Bengukulu, pantai selatan Jawa, dan
sejumlah daerah rawan gempa lainnya. Alat-alat pendeteksi dipasang dipantau
setiap hari oleh petugas teknis yang berada di daerah bersangkutan, yang lalu
mengirimkannya ke pusat untuk diolah dan dianalisis lebih lanjut oleh para
pakar yang memang ahli di bidangnya.

0 komentar:

Poskan Komentar