RSS

Selasa, 10 Agustus 2010

FILOSOFI BISNIS CHINA

Belajar bisnis penuh filosofi ke China

Catatan Kaisar Victorio
Sabtu, 07 Agustus 2010 | 16:50 wib ET
SURABAYA, kabarbisnis.com Kaisar Victorio, seorang penyiar radio kawakan yang juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2004-2009. Selama menjadi anggota DPR itu ia sudah dua kali mendapat tugas kunjungan kerja ke China. Apa saja yang terkesan melihat kemajuan negeri tirai bambu itu, ia akan menuturkan pengalamannya kepada kabarbisnis.com berikut ini:

Ketika Asian China Free Trade Agreement (ACFTA) diberlakukan, banyak yang meragukan kesiapan produk Indonesia bisa bersaing dengan produk China. Terutama para pelaku bisnis yang merasa pesimis. Sehingga mereka meminta kepada pemerintah untuk menunda kesepatan perdagangan bebas di kawasan ASEAN itu.

Semuanya minta diproteksi produknya, jangan sampai produk China yang akan membanjiri Indonesia dapat menenggelamkan produk lokal. Kenapa produk China ditakuti?

Kalau saya melihat posisi neraca perdagangan antara China dan Indonesia pada Feberuari 2010 lalu, masih mengalami defisit sekitar US$380 juta. Padahal waktu itu (Februari) belum diberlakukan perdagangan bebas dengan China.

Jadi bisa dimaklumi jika para pelaku bisnis kita merasa pesimis. Sebenarnya kita kan tidak perlu berlarut-larut dengan benang merah (rasa ketakutan) menghadapi persaingan pasar, tapi tak pernah mampu mencari solusi. Maaf, saya bukan seorang ekonom.

Tapi dari pengalaman saya berkunjung ke China waktu itu, banyak hal yang perlu kita pelajari dari kiat sukses mereka dalam membangun ekonomi yang berbasis kerakyatan.

Maju karena filosofi hidup yang kuat
China maju karena filosofi hidupnya yang kuat. Saya dua kali berkunjung ke kota Beijing, Shanghai, Fujian dan Guangzhou di China Selatan. Saya sempat menelusuri jalan-jalan kampung di pinggiran kota, ternyata orang-orang China yang tinggal di daerah kumuh pun sangat teguh memegang prinsip filsafat nenek moyangnya.

Filosofi kuno yang sudah beratus-ratus tahun dipegang kuat-kuat oleh mereka. Dalam kehidupan rumah tangga; pertama, orangtua mengajarkan kepada anak-anaknya harus bisa hidup mandiri. Kedua, bagaimana mereka bisa hidup survive? ketiga; mendaki langit itu sulit, tapi lebih sulit minta pertolongan orang lain. Ini filosofi yang dijadikan pegangan mereka.

Kebetulan saya bisa berbahasa China, jadi tidak kagok untuk bisa memahami kehidupan mereka. Sebab saya banyak bertanya saat berdialog dengan mereka. Meskipun mereka bernasib buruk, tak punya pekerjaan penting sebagaimana pegawai profesional di perusahaan besar, tapi tak sedikit pun wajah mereka kelihatan frustrasi. Mereka tetap punya semangat tinggi untuk bekerja. Ini kelebihan orang-orang China yang saya jumpai.

Ketika saya masuk ke pelosok kampung, daerah pinggiran China, tak sedikit rumah-rumah yang menjadi rumah industri (home industry). Seperti industri sepatu, garmen, elektronik, otomotif, banyak dari produk bermerk terkenal itu dikerjakan dengan model home industry di sana. Jadi roda kehidupan ekonomi di sana betul-betul berbasis kerakyatan.

Upah buruh lebih murah daripada Indonesia
Saya juga tanya upah buruh di sana, ternyata lebih murah dari upah buruh di Indonesia. Dan bila terjadi perselisihan soal upah atau kesejahteraan mereka yang tidak sesuai dengan kesepakatan, mereka tak sampai melakukan aksi demo seperti di negara-negara lain. Apalagi sampai berbuat anarkis yang merusak tempat kerjanya atau fasum, tidak pernah terjadi di sana.

Jadi walaupun mereka hidup di negara komunis yang otoriter, tapi warga negaranya patuh terhadap peraturan dan perundang-undangan. Hukum betul-betul ditegakkan di sana. Siapa pun yang bersalah harus dihukum. Tak peduli yang berbuat itu adalah pejabat tinggi negara. Apalagi sampai pejabat melakukan tindak korupsi, tak bakal diberi ampunan sama sekali oleh penegak hukum di China. Orang miskin di sana lebih patuh lagi. Tak ada yang frustrasi, dan berbuat kerusuhan sosial.

Saya kagum melihat kehidupan orang-orang miskin China yang gigih itu. Berbeda dengan orang-orang miskin di negara lain. Tak sedikit kehidupan mereka yang bergejolak. Mereka frustrasi dan kerap menimbulkan kerusuhan sosial.

Saya melihat di Indonesia, daerah pinggiran yang berpenduduk miskin seperti Jakarta, Ambon Maluku, dan daerah lainnya, kini seperti ledakan bom yang tak pernah berhenti meletus. Dimana-mana meletus mengobarkan api dan banjir darah. Entah, sampai kapan ini terus terjadi?

Saya tidak membesar-besarkan China. Tapi kenyataannya, negara China maju pesat. Baik dari segi ekonomi maupun kehidupannya. Termasuk orang-orang China perantauan. Entah mereka yang ada di Amerika, Eropa maupun negara-negara Asia. Bahkan, diperkirakan China akan menjadi pesaing Amerika sebagai negara super power di masa mendatang.

Dengan memegang teguh filosofi kuno itu, orang-orang China punya nilai kultural yang tinggi dalam kehidupannya. Sejarah kebudayaan China kuno sendiri sebetulnya sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad. Makanya nabi sendiri mengatakan “Utlubul ilma waa lau bissiin” carilah ilmu ke negeri China. Betapa tingginya kebudayaan China itu, sampai-sampai nabi yang jadi panutan orang seluruh dunia, menyuruh ummatnya untuk belajar ke negara China.

Wagub Jawa Timur, Yusuf Saifullah atau yang akrab dipanggil Gus Ipul, sering saya dengar dalam pidato tak resminya, beliau mengutip filosofi China kuno untuk memberi contoh atau keteladanan kepada siapa pun. Kadang dengan gaya bicara Gus Ipul yang penuh humor itu, audiennya bisa ketawa mendengar kutipan filosofi China yang beliau sampaikan.

Suatu ketika beliau berbicara dalam acara pembukaan pameran untuk UKM, Gus Ipul mengutip filosofi China “Ming Tian Hui Genhao” yang artinya, hari esok akan lebih baik. Filosofi ini, memang sudah menjadi keyakinan setiap orang China. Kalau hari esok itu harus lebih baik dari hari ini.

Cerita Gus Ipul ini disambut tawa para undangan yang hadir. Kata Gus Ipul, “Apa yang saya sampaikan ini adalah filosofi China. Benar atau salah cara saya menyampaikan dalam berbahasa China tadi, mungkin banyak yang nggak ngerti. Saya sendiri juga nggak tahu, sudah benar apa salah saya mengucapkan itu? Kalau seandainya salah pun, nggak ada yang bisa protes kan? Karena sama-sama nggak ngerti. Tapi kalau saya mengutip Alquran, wah…semua para undangan banyak yang mengerti. Apalagi kalau ada di antara undangan yang hadir ada kiainya, wah.. kalau saya salah menafsirkan arti Alquran tadi, bisa ramai jadi perbincangan banyak orang lantaran kesalahan saya.”

Melihat dari kisah pidato Gus Ipul itu, saya menilai banyak tokoh kita yang mulai senang membaca filosofi China kuno. Dalam artian saya juga tidak mengesampingkan ajaran-ajaran Alquran dan Hadist. Cuma saya sangat aprisiatif dengan pesan Nabi yang menyuruh cari ilmu ke negeri China tersebut.

Justru saya membaca Hadist itu, hati saya tergerak ingin belajar bahasa mandarin. Saya belajar secara otodidak. Saya banyak beli buku belajar bahasa China, lalu praktiknya saya menemui orang-orang China yang bisa bahasa China. Karena tidak semua orang China di Indonesia bisa bahasa Mandarin. Ini cerita sekilas pengalaman saya melihat kemajuan ekonomi China yang berbasis kerakyatan itu. kbc11


MAJALAH SEJAHTERA ANGGOTAKU - JAKARTA

1 komentar:

Agus Setya Fakhruddin mengatakan...

artikel yang bermanfaat, "mendaki langit itu sulit, tapi lebih sulit minta pertolongan orang lain".
survive jadi pilihan utama tanpa mengandalkan orang lain.

Poskan Komentar